Sudah lama saya mencoba mencari cara untuk membuat alat pelacak pesawat RC yang jatuh agar mudah ditemukan. Usaha yang pernah saya coba adalah dengan memasang Alarm, namun kelemahan dari cara ini adalah suara alarm yang tidak cukup kuat untuk didengar dari jarak yang jauh. Selain itu alarm akan mengundang perhatian banyak orang dan mungkin saja akan ada orang yang berniat jahat untuk mengambil atau menyembunyikannya.
Teringat saat masih menekuni hobby radio amatir, akhirnya muncul ide membuat RF Beacon. RF Beacon banyak digunakan oleh para penggemar radio amatir untuk acara fox hunting, yaitu lomba melacak sumber signal yang dipancarkan oleh sebuah pemancar (beacon) yang tempatnya dirahasiakan.
Biasanya beacon berupa pesawat radio tranceiver yang ukurannya kecil dan disembunyikan di bawah kolong jembatan, dalam gedung, semak-semak atau bahkan di atas pepohonan.
Berawal dari RF beacon untuk acara fox hunting inilah saya mencoba membuat pemancar kecil yang mengirim signal dan bisa dilacak menggunakan radio penerima. Untuk keperluan ini saya cukup menggunakan HT atau Handy Talky dan sebuat pemancar berukuran sangat kecil 10 x 10 x 5 mm dg berat sekitar 5 gram. RF Beacon ini di tempat terbuka bisa dilacak dari jarak sekitar 1 km.
————————————————————————————————
perangkat ini bisa anda peroleh DI SINI
Saya bersama team Capung (Thoha dan Dendi) dan Colorful Fotografi (Danto dan Saiqa) diundang oleh EFWEHA production untuk melakukan peliputan di beberapa obyek wisata di Sumatra barat. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melakukan liputan obyek wisata yang nantinya materi tersebut akan digunakan sebagai media promosi pariwisata. Misi yang kami lakukan di antaranya:
- Foto dan Video Udara (oleh tim Capung)
- Foto dan Video Darat (oleh tim Colorful)
Lokasi yang kami kunjungi (tidak semua gambar bisa kami tampilkan di sini)
- Peternakan Riau Agro Mandiri
- Lembah Harau
- Dananau Maninjau
- Danau Singkarak
- Kelok 9 (pembangunan jalan layang)
- Kelok 44
- Teluk Meranti (dg ombak Bono yg fenomenal)
Perbedaan hari jatuhnya 1 Syawal 1432 H tahu ini memang cukup menimbulkan kebingungan bagi sebagian orang. Terutama perbedaan antara pihak Muhammadiyah dan Pemerintah dalam menentukan 1 Syawal 1432. Bagi saya yang masih awam dalam hal ini mencoba menggali informasi dari sahabat-sahabat saya yg lebih mengerti masalah ini.
Secara ilmu astronomi moderen sebenarnya perhitungan tinggi hilal (posisi bulan saat matahari tenggelam) sudah bisa diukur dengan sangat akurat. Lantas apa sebenarnya yang menjadi perbedaan antara Pemerintah (Depag) dan Muhammadiyah, sejauh yang saya fahami adalah masalah batas tinggi hilal. Dalam hal ini Muhammadiyah menggunakan hisab sebagai dasar penentuan 1 syawal, sehingga jika tinggi hilal sudah lebih dari 0 derajat maka sudah 1 syawal, meskipun belum memungkinkan terlihat.
Sedang Depag selain menggunakan rukyat (melihat) dan hisab (perhitungan) juga menggunakan batas minimal hilal yg saat ini disepakati yaitu 3 derajat, karena jika hilal kurang dari 3 derajat tidak mungkin bisa dilihat/diamati. Artinya jika tinggi hilal belum sampai 3 dejat atau lebih maka belum masuk 1 syawal. Namun demikian dari info yang pernah saya dapat, rekor hilal terndah yang berhasil diamati adalah 5 derajat. Mengenai kesaksian dari warga cakung yang ditolah oleh sidang isbat dikarenakan karena menurut para ahli falaq dan astronomi hal itu tidak mungkin terjadi. Karena tinggi hilal pada tanggal 30 Agustus 2011 baru 1.8 derajat, karena hilal baru akan bisa terlihat jika sedah lebih dari 3 derajat, itupun dengan kondisi cuaca yg sangat cerah.
Namun demikian perbedaan ini semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua tentang arti toleransi. Kapanpun Lebarannya Kita Semua Saudara. Smoga di tahun yg akan datang masyarakat kita semakin kritis dan cerdas dalam mensikapi perbedaan ini, bukan hanya sekedar ikut-ikutan tapi mengerti mengapa hal ini bisa berbeda.
Saya hanya orang biasa dan awam tentang ilmu astronomi ataupun falaq, jika ada salah dan hilaf itu karena kebodohan saya semata, saya menulis ini hanya ingin mengutarakan pendapat dan berbagi informasi semata.
Dua hari ini saya dan tim Capung melakukan pemantau dari udara dengan menggunakan pesawat tanpa awak di lokasi jembatan yg putus akibat terjangan lahar dingin merapi di jalan utama Yogyakarta - Magelang tepatnya di Sungai Pabelan. Dengan putusnya jembatan ini maka lalulintas kendaraan dari Yogyakarta ke Magelang atau sebaliknya dialihkan ke jalur alternatif. Berikut ini beberapa gambar yang berhasil kami peroleh dari pesawat tanpa awak pada ketinggian sekitar 300 - 400 meter.
Crop circle yang muncul di Berbah, Yogyakarta ini menjadi berita yang cukup menghebohkan dan menjadi berita diberbagai media. Pada kesempatan ini kami Helicam CAPUNG dengan Pilot saya sendiriĀ (Muhammad Thoha) mendapat moment yg eksklusif dengan mendapatkan video dari udara yang kita ambil dengan helicam kami. Berikut ini hasil capture dari video kami yang telah ditayangkan di Metro TV.
Capung adalah sebuah perusahaan yang lahir untuk memenuhi kebutuhan foto atau video dari udara atau populer dengan Flying Camera. Capung terlahir dari para alumni Eagle Award 2010 yang mengangkat film berjudul “Habibie dari Selokan Mataram”. Dengan tarif yang ekonomis kami berharap Capung dapat memenuhi kebutuhan foto dan video udara untuk berbagai kebutuhan. Berikut ini foto yg kami ambil di beberapa lokasi di jogja.
Pada hari ke 3 usai banjir lahar dingin Merapi di daerah Jumoyo dan sekitarnya, kami Komunitas Seribubintang diminta MetroTV untuk melakukan video udara. Berikut ini beberapa dokumentasi yang bisa kami laporkan.
Foto ini kami ambil dari frame Video Udara yang ditayangkan di Breaking News jam 12.00 WIB
situasai jalan Yogya - Magelang yg mulai lancar
terbang rendah diatas kendaraan yg melintas
Dahsyatnya lahar dingin merapi yang menerjang jalan raya Yogyakarta - Magelang mencapai setinggi 3 meter, yang berupa material pasir dan bebatuan. Tentunya pekerjaan yang tidak mudah bagi para warga, relawan dan petugas untuk membersihkan dan membuka jalan dari tumpukan pasir dan bebatuan yang menimbun jalan hingga 3 meter sepanjang 100 meter ini.
Banyaknya material dari Merapi yang menimbun jalan raya ini akibat jalur sungai Kali Putih sudah tidak mampu lagi menampung besar aliran lahar dingin. Akibatnya jalan Jogja - Magelang ditutup total sejak pukul 18.00 WIB 3 januari hingga pukul 14.00 keesokan harinya.
Berikut ini foto udara yang berhasil kami dapat dari sekitar jembatan Kali Putih Jumoyo.
Jalan Raya Yogya - Magelang kembali normal
Sebuah perkampungan yang tenggelam oleh pasir dan batu lahar merapi
TEAM SERIBUBINTANG FLY CAM : Pilot: Muhammad Thoha; Dokumentasi: Rini Wilujeng, Manager Lapangan: Dendi Pratama; Asisten: Asep Endrasmoro.
Video udara kami juga ditayangkan di Metro Hari Ini (MHI)
Pesawat Tricopter buatan kami yang sederhana inilah yg telah mengabadikan momen bersejarah ini.