Banyak orang memperoleh sertifikat Microsoft Profesional diusia 20 tahunan. Tapi ini tidak untuk Arfa Randhawa
Hidayatullah.com—Amjad Karim kaget luar biasa. Belum pernah ia mendapati –bahkan mungkin—membayangkan hal istimewa sebelumnya dari putrinya. “Saya melihat dia melakukan sesuatu yang luar biasa, membuat prersentasi,” kata, Amjad Karim, yang baru saja menghadiri undangan Microsoft minggu ini.
Ya, itulah Arfa Karim Randhawa (10), adalah gadis muslim asal Ram Deepavali, Faisalabad, Pakistan ini adalah pemegang sertifikat ‘insinyur’ Microsoft termuda.
Pada 2004, gadis muda yang tinggal di Pakistan ini telah menjadi berita dunia ketika ia memperoleh sertifikat itu pada usia 9 tahun.
Keberhasilan Arfa bukan hal umum yang membuat dirinya berbeda dari kebanyakan gadis seusianya di dunia, mencuat di Pakistan - sebuah negara dimana 50 persen dari gadis sebayanya buta aksara.
Pada saat yang bersamaan keberhasilan Arfa juga merupakan sebuah testamen bagi keluarganya yang melihat kemampuannya dan lalu memupuknya.
Kini umurnya 13 tahun, Arfa tetap seorang anak yang penuh percaya diri dan pandai mengeluarkan pendapatnya. Dia menerima kedatangan saya di beranda rumah keluarganya di Lahore, untuk duduk ngobrol tentang keberhasilan dan rencana masa depannya.
Menurut neneknya, ketika Arfa masih berumur dua setengah tahun ia dapat menghafal cerita tertulis maupun lisan dalam bahasa yang berbeda.
Pada umur delapan tahun, ayahnya menyadari bahwa Arfa dapat mengerjakan pekerjaan tingkat lanjut di kom-puter, seperti mengoperasikan Microsoft Office dengan lancar. Ayahnya, Sohail, memasukkannya ke institut komputer setempat di kota asalnya, Faisalabad, APTECH (Applied Technologies) Computer Institute.
Di institut itu, bakatnya dengan cepat nampak dan segera ia mengajarkan bahasa komputer tingkat dasar bagi murid yang lebih tua. Pada 2004, Sohail, mendorong Arfa yang waktu itu berumur sembilan tahun, untuk menempuh ujian pertamanya agar memperoleh sertifikat Microsoft Professional
Berita tentang keberhasilannya menyebar sehingga ia diundang untuk mengunjungi pusat Microsoft di Redmond, Washington, dimana ia bertemu Bill Gates.
Dia diwawancarai oleh banyak wartawan internasional dan menerima sejumlah penghargaan di rumahnya.
Setelah Somasegar, Wakil Senior, Developer Division di Microsoft, menemui Arfa, ia menulis tentang Arfa dalam blog-nya.
“Saya sangat senang bertemu Arfa dan memperoleh sebuah kesempatan memahami apa yang mendorong Arfa bekerja keras untuk mencapai keberhasilan pada usia yang sedemikian muda,” tulis Somasegar.
“Saya angkat topi untuk orang tua Arfa yang membimbing kegemaran dan bakatnya dan memberinya peluang untuk belajar dan tampil unggul.”
Orang tua Arfa benar-benar sangat berperan dalam membantunya mengembangkan bakatnya melalui komputer. Ibu Arfa, Samina Amjad, memancarkan ketenangan dan kebulatan tekad, khususnya pada hal-hal yang menyangkut anaknya.
“Saya tidak bekerja di luar rumah, tetapi saya abdikan untuk keperlu-an ketiga anak saya sehingga mereka dapat mencapai potensi tertinggi mereka,” kata Samina.
Samina mengatakan bahwa biasanya ia mengantar Arfa satu jam berkendaraan dari Rawalpindi ke ibu kota Pakistan, Islamabad, untuk sekolah. Agar hemat uang untuk pendidikan anak-anaknya, ia memilih untuk meng-antar sendiri anak-anaknya.
“Revolusi” Pakistan
Di Pakistan, kebanyakan perempuan tidak mengemudikan kendaraan sedemikian jauh dan lebih banyak mempekerjakan seorang sopir.
Ayah Arfa telah menjual banyak barang yang dimilikinya untuk membiayai pendidikan Arfa. Ia baru-baru ini pensiun dari ketentaraan Pakistan sehingga memungkinkan keluarganya untuk pindah ke Kanada demi pendidikan anaknya.
Meninggalkan Pakistan bukan pilihan pertama bagi Arfa dan keluarganya, tetapi mereka mengerti bahwa Arfa dan saudara lelakinya membutuhkan sumber dana dan lingkungan yang dapat membantu mengembangkan bakat mereka. Mereka merasa bahwa kualitas pendidikan di Pakistan, tidak sebaik dan tidak seternama (secara international) di Amerika.
“Anak berbakat membutuhkan tantangan, bila tidak mereka akan merasa bosan dan menjadi sesuatu yang negatif,” kata Arfa.
“Bangsa Pakistan bukanlah tidak baik, mereka hanya tidak berpandangan jauh ke depan,” komentar Arfa dalam pemikirannya tentang mengapa pemerintah Pakistan tidak mendukungnya secara finasial atau sebaliknya.
Samina berpikir Pakistan sebagai bangsa tidak memahami pentingnya mengasuh/mendidik dan menyokong bakat generasi mudanya dan dapat memberi arti apa bagi keberhasilan negerinya.
Arfa berada pada jalur cepat untuk menyelesaikan SMA-nya di Pakistan, dan dia berharap masuk MIT atau Universitas Harvard di Amerika.
Kini ia menginginkan seorang pembimbing, seperti orang tuanya dan guru yang mengajarnya sebelumnya, Sohail di APTECH, untuk memandu perjalanan profesionalnya yang selanjutnya.
“Saya butuh polesan, seperti intan hitam membutuhkan gosokan hingga keindahannya dapat terlihat,” jelas Arfa.
Arfa juga mengatakan dia ingin menggunakan bakatnya untuk membuat kondisi manusia jadi lebih baik. “Cita-cita saya adalah untuk mendapatkan sebuah posisi yang dapat memungkinkan diri saya dapat membantu masyarakat, khususnya anak-anak Pakistan,” kata Arfa.
Kenyataannya, keluarga Randhawa telah memulai membantu anak-anak Pakistan. Arfa dan keluarganya mengawali sebuah organisasi nirlaba yang dinamakan The Arfa Kiram Welfare Foundation di desa keluarganya, dekat kota Faisalabad.
Yayasan itu menyediakan pendidikan komputer bagi remaja putri usia sekolah, dan memiliki laboratorium yang sepenuhnya dikelola oleh guru perempuan di SMA lokal untuk perempuan.
Walaupun kisah Arfa ini tidak umum, tidak sulit untuk dibayangkan bahwa banyak remaja putri dan putra berpotensi di Pakistan yang mungkin akan berkembang jika diberikan sebuah lingkungan pendidikan, sumber dana, dan keluarga yang dapat mengenali serta mendukung bakat mereka.
Atas keberhasilan ini, markas Microsoft di Redmond Amerika Serikat manghadiahi Randhawa tur keliling dan bertemu secara langsung pendiri perusahaan itu, Bill Gates.
Sepanjang perjalanan tur, Randhawa tak henti-hentinya bertanya pada Gates. Termasuk sempat mengkritik kebijakan Gates mengenai kenapa anak-anak belum boleh bekerja untuk Microsoft. Randhawa juga sempat menanyakan berapa komposisi jumlah pekerja antara pria dan wanita di perusahaan itu.
Gara-gara pertanyaan Randhawa pula, pemegang sertifikat Microsoft Certified Application Developer, berani menasihati Gates agar adil dalam mempekerjakan pria dan wanita tanpa membedakan gender. [Epoch Times/erb/cha/www.hidayatullah.com]